Skip to content

Narrow screen resolution Wide screen resolution Increase font size Decrease font size Default font size
Home
Menulis Skenario Dasar (Z Radar T) PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Administrator   
Monday, 04 August 2008
Bagian 8:
Makalah dari Zaenal Radar T
Pelatihan Menulis Skenario  Dasar
Sabtu, 12 Juli 2008 PERJALANAN KREATIF

Oleh: Zaenal Radar T.
 
Berangkat dari kegelisahan dan kegatelan kreativitas, hal-hal remeh temeh sudah cukup menjadi bahan-bahan tulisan kreatif saya. Kepergian saya dari rumah menuju mal bisa dijadikan contoh bagaimana saya menuangkan sebuah gagasan kecil menjadi 'sesuatu'. Sebuah kegiatan kreatif yang sangat sederhana sekali.

Kegelisahan sudah terjadi saat menoleh ke sebuah rumah  tingkat yang jendelanya terbuka. Saya melihat seorang lelaki duduk di loteng rumahnya. Maka jadilah tulisan berjudul, "Cowok Di Loteng Rumahnya" (majalah Gadis). Setelah itu, saya mampir di sebuah warnet dekat rumah, menelpon sebentar, lalu memerhatikan bagaimana seorang penunggu warnet bekerja. Maka jadilah sebuah tulisan berjudul, "Saya Mendengar Semuanya" (Harian Seputar Indonesia). Dari warnet, saya naik angkutan kota, di dalam angkutan terdengar percakapan serius sepasang lelaki dan perempuan. Kata si perempuan, "Kenapa sih kamu lihatin aku aja? Aku lebih cantik ya?" Si lelaki menggeleng. "Atau...kamu merasa pangling lihat penampilan baru aku?" Si lelaki menggeleng lagi, "Lalu apa??" kejar si perempuan. Si lelaki menjawab, "Kayaknya...alis kamu lain sebelah deh!" Si perempuan cemberut. Saya yang duduk di dekat keduanya dengan sekuat tenaga menahan tawa. Ini dialog penting yang saya masukan ke dalam salah satu novel saya. (Johan Playboy Kompleks, Gagas Media)

Tiba di mal, baru tiba di halaman, saya sudah melihat beberapa gadis ABG nampak begitu riangnya. Saya memerhatikan semuanya, termasuk beberapa diantara mereka yang pusernya kemana-mana. Karena baju yang kurang bahan, atau mungkin ngikutin trend. Saya berpikir, gimana kalau diantara ABG itu ada yang memiliki puser bodong, sehingga tak berani mengenakan pakaian seperti teman-temannya yang mengumbar puser? Maka jadilah tulisan saya, "Puser Bodong" (majalah KaWanku).

Pulang dari mal, karena sudah masuk waktu solat, saya mampir di sebuah masjid. Baru tiba di halamannya, saya melihat lelaki berkening hitam. Saya yakin lelaki ini lelaki yang alim karena keningnya hitam. Mugkin beliau sering mencium sajadah (Kening Hitam, Republika). Tiba di berandanya, saya melihat salah satu jamaah yang malas-malasan. Maka saya membuat sebuah cerita dengan judul, "Lelaki di Beranda Masjid" (majalah Syir'ah). Dari masjid, saya pulang ke rumah, mampir sebentar di toko dvd. Saya melihat beberapa lelaki menonton biduan dangdut lewat keping dvd. Saya perhatikan mereka begitu terhibur dengan goyangan biduan dangdut di dalam tabung teve hingga air liur mereka menetes. Apa mereka yakin kalau biduan dangdut di teve itu memang asli memiliki (maaf) pantat yang bahenol? Jangan-jangan cuma tambalan? Saya menulisnya dalam cerpen, "Biduan Dangdut" (Harian Seputar Indonesia).

Selepas membeli beberapa keping dvd, saya pulang. Di dalam setiap keping dvd itu tak sedikit ide kreatif yang bisa dihasilkan. Demikianlah. Perjalanan dari rumah ke mal lumayan banyak mendapatkan ide-ide kreatif saya. Ini baru perjalanan kreatif dari rumah ke mal. Bagaimana bila perjalanan kreatif sampai ke Hongkong...??

Dari Cerpen ke Skenario, dari Skenario ke Cerpen

Ranah kreativitas tak pernah ada sekat. Sebuah ide cerpen bisa menjadi skenario (cerpen saya: "Bisul di kening Pak Ustadz" (Republika), menjadi salah satu sub tittle skenario serial sinetron 'si Entong' (TPI). Sebaliknya, ide skenario sinetron bisa menjadi sebuah cerpen. Skenario FTV 'Haji Tanah Abang' (TPI), menjadi ide cerpen dengan judul yang sama (dimuat di harian Seputar Indonesia). Hal ini sebagai satu contoh saja bahwa sebuah ide bisa dibawa kemana-mana, tentu pada akhirnya semua itu harus memenuhi kaidah penulisan: Cerpen tentu harus mengikuti kaidah/struktur dalam penulisan cerpen, begitupula skenario. Masing-masing memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Namun semuanya bisa dipelajari.

Menulis cerpen/novel/skenario untuk kepentingan industri media seperti koran/majalah/televisi, menurut saya tak ada bedanya. Maksud saya, secara kreativitas semua itu harus memenuhi standar kualitas dari masing-masing target media apa karya kita ditampilkan. Seringkali kreativitas terbentur pada sejumlah syarat, seperti jumlah halaman dalam majalah/koran/buku. Kepentingan produser atau sutradara; dalam skenario, dan hal-hal lain yang memungkinkan kreativitas kita 'tampil' tak sesuai dengan keinginan kita sebagai seorang kreator. Namun begitu, kerja keras akan membuahkan sebuah karya kreatif yang bisa dipertanggungjawabkan.

*)Makalah Untuk Silnas FLP 2008

Biografi Singkat Zaenal Radar T.
Kelahiran Tangerang, 7 Desember 1973. Menulis sejumlah cerita pendek, novel dan skenario teve.  Menjadi anggota FLP-ers sejak 2001.
Pemutakhiran Terakhir ( Monday, 04 August 2008 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Karya

Cerpen
Puisi
Esai

Adakah Yang Online?

Saat ini ada 18 tamu online

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini34
mod_vvisit_counterKemarin24
mod_vvisit_counterPekan ini258
mod_vvisit_counterBulan ini643
mod_vvisit_counterSeluruhnya6419

Login Form






Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar

Penunjuk Waktu

Campaign

biru2.jpg

Polls

Bagaimana menurut anda web kami ini?
 

Top