Skip to content

Narrow screen resolution Wide screen resolution Increase font size Decrease font size Default font size
Home
Menulis Kreatif Non Fiksi (Hernowo) PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Administrator   
Monday, 04 August 2008
Bagian 5:
Makalah dari Hernowo
Pelatihan Menulis Kreatif Non Fiksi
Sabtu, 12 Juli 2008 MENEMUKAN BUKU YANG MAMPU MELANGITKANKU:
Bagaimana Aku Membangun Diriku sebagai Penulis yang Produktif dan Kreatif?
Oleh : Hernowo
     

Izinkan aku mengisahkan perjalanan hidupku ketika aku mampu mengubah diriku menjadi seorang penulis. Aku percaya akan adanya bakat menulis. Namun, aku mampu menjadi penulis bukan karena bakat. Aku mulai sadar bahwa menulis (dan juga membaca) sangat bermanfaat bagi diriku ketika usiaku melewati angka 40 tahun. Ketika itu, aku sudah bekerja di Penerbit Mizan selama hampir 13 tahun. Dan ketika usiaku mencapai 44 tahun, aku berhasil menerbitkan karya-pertamaku, Mengikat Makna. Judul bukuku ini diilhami oleh kata-kata Ali bin Abi Thalib r.a., "Ikatlah ilmu dengan menuliskannya."

Bagiku, Mengikat Makna merupakan simbol perjuanganku dalam menemukan secara konkret dan nyata seabrek manfaat membaca. Dalam berjuang menemukan pelbagai manfaat membaca inilah kemudian aku diantarkan menuju sebuah wilayah baru bernama "mengikat makna". Di halaman 46 buku Mengikat Makna, aku menulis, "Penerbit tempatku bekerja terus mengalirkan teks demi teks, membanjiri toko-toko buku. Apakah para pembeli buku keluaran penerbitku benar-benar membaca dalam arti membaca yang sesungguhnya?"

Pertanyaanku itu kemudian semakin kupertajam, "Yaitu, dengan tekun dan gairah mengunyah teks demi teks, lalu berusaha keras memahami gagasan yang ditawarkan oleh seorang pengarang, dan, akhirnya, gagasan yang diserap mereka dapat menggerakkan  mereka untuk berbuat sesuatu yang lebih baik? Aku tak ingin melanjutkan soal penting yang memprihatinku ini. Aku hanya tertarik untuk mengisahkan pengalamanku dalam menghindari jebakan kebosanan sewaktu berhadapan langsung dengan teks."

Proses Kreatif dan Sumber Inspirasiku dalam Menulis

Aku membangun kecintaanku terhadap kegiatan membaca dan menulis lewat konsepku bernama "mengikat makna". Prinsip kegiatan "mengikat makna" sederhana, yaitu memadukan kegiatan membaca dan menulis secara bareng dan tertata. Setiap kali aku selesai membaca sebuah buku, aku kemudian merenungkan dan mencerna hasil kegiatan membacaku tersebut dan menuliskannya atau "mengikat" hasil-hasil membacaku yang mengesankanku.

Dan aku tidak sembarangan dalam menuliskan hasil-hasil membacaku. Aku benar-benar berusaha sangat keras untuk menuliskan hal-hal penting dan berharga (atau yang bermakna) dari kegiatan membacaku tersebut. Aku tidak mau menjalankan kegiatan membaca yang asal-asalan. Aku juga tidak mau kegiatan membacaku tidak menghasilkan sesuatu yang konkret dan bermakna. Sebelum aku menemukan konsep "mengikat makna", berkali-kali aku dikecewakan dengan kegiatan membacaku. Apa yang kubaca ternyata mudah aku lupakan. Aku mudah lupa dengan apa yang kubaca karena aku memang tidak bisa mengingat semua hal yang ingin kuingat.

Nah, lewat "mengikat makna", aku kemudian tidak pernah lupa dengan materi menarik yang kubaca. Aku tidak sekadar menandai (menstabilo) sederetan kalimat yang menyimpan konsep-konsep penting dari sebuah buku yang kubaca. Aku juga tidak sekadar memindah atau menyalin kata-kata mengesankan seorang penulis yang kutemukan di buku yang kubaca ke buku harian milikku. Aku menuliskan dengan bahasaku sendiri semua itu. Aku mencoba "memaknai" hasil membacaku sesuai dengan kapasitas yang ada di dalam diriku.

Akhirnya, bukan saja keterampilan membacaku meningkat sangat pesat. Aku pun mampu melejitkan keterampilan menulisku secara luar biasa. Yang menakjubkan, seiring dengan melejitnya keterampilan membaca dan menulis, aku pun kemudian, secara terus menerus, mampu menumbuhkan kecintaanku terhadap dua kegiatan penting tersebut. Tidak pernah sehari pun aku menyia-nyiakan waktuku untuk tidak membaca dan menuliskan sesuatu. Setiap ada waktu luang, aku pasti menjalankan kegiatan membaca dan menulis. Apakah aku sedang naik kereta api, menunggu resep dokter, atau menunggu tamu, aku pasti memanfaatkannya untuk membaca dan menulis.

Dalam sebuah bukuku yang kujuduli Spirit Iqra', aku merekam secara detail kegiatan "mengikat makna" yang kulakukan selama aku menjalankan kegiatan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Ada kira-kira 40 topik "ikatan makna" yang aku hasilkan. Memang, berpuasa di bulan Ramadhan hanya berlangsung sebulan atau 30 harian. Namun, sebelum dan sesudah bulan Ramadhan, aku masih menghasilkan beberapa "ikatan makna" sehingga jumlahnya melebihi 30 hari.

Setelah aku menjalankan "mengikat makna" di bulan Ramadhan, aku pun menjalankan "mengikat makna" lagi ketika aku naik haji bersama istriku. Sejak sebelum berangkat naik haji, aku sudah menuliskan pengalamanku dalam mempersiapkan hajiku. Setibanya di Tanah Suci, aku pun tak pernah lupa untuk mengisi waktu-waktu kosongku dengan membaca buku dan menuliskan pengalamanku. Aku merasakan sekali, betapa bermanfaatnya "merekam" kegiatanku di Tanah Suci secara tertulis. Aku jadi senantiasa mengingat momen-momen mengesanku selama berkunjung di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, makam Rasulullah Saw., dan tempat-tempat suci yang lain.

Apa hikmah yang aku peroleh dari kegiatan "mengikat makna" yang aku jalankan secara maraton, kontinu, dan konsisten ini? Pertama, aku menyadari sekali bahwa membaca dan menulis itu merupakan keterampilan. Jika aku ingin menguasai sekaligus mencintai dua kegiatan tersebut, aku pun harus membiasakan diri menjalankannya. Kata-kata Elizabeth Winthrop ini menarik untuk menopang hikmah pertama yang aku temukan:

 "Kalau Anda ingin menjadi penari profesional, tentu Anda harus berlatih setiap hari. Kalau Anda ingin bermain sepakbola di divisi utama, Anda pun harus latihan menendang dan menggiring bola ratusan kali. Menulis memerlukan hal yang sama. Anda perlu berlatih, artinya Anda harus terus menulis dan membaca."

Kedua, aku kemudian dapat membuktikan bahwa membaca memerlukan menulis dan menulis memerlukan membaca. Dalam bahasa yang lain, hal tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut: Kegiatan membaca yang tidak diikuti dengan kegiatan menulis akan menjadikan kegiatan membaca itu tidak menghasilkan manfaat langsung dan konkret. Sebaliknya, kegiatan menulis yang tidak diawali dengan kegiatan membaca, ada kemungkinan akan menjadi kegiatan yang sulit dan menyiksa. Melanjutkan menulis setelah membaca akan menjadikan kegiatan membaca itu benar-benar efektif.

Kata-kata Stephen D. Krashen, pakar linguistik, yang menulis buku The Power of Reading ini, menarik untuk kita perhatikan secara saksama: "Akhirnya, kesimpulanku sederhana. Jika anak-anak dapat membaca untuk kesenangan (akrab dengan buku), mereka akan memperoleh, secara tidak sengaja dan tanpa usaha yang dilakukan dengan sadar, hampir semua hal yang disebut 'keterampilan kebahasaan'�. Hasil-hasil riset dengan jelas menunjukkan bahwa kita belajar menulis lewat membaca."

Ketiga, masih terkait dengan hikmah kedua, membaca adalah memasukkan sebanyak mungkin kata-kata ke dalam diriku, sementara menulis adalah mengeluarkan pengetahuan dan pengalaman yang sudah tersimpan lama di dalam diriku lewat bantuan kata-kata. Jika kita suka dan bisa membaca, wawasan kita pasti bertambah luas. Namun, ternyata kegiatan membaca tidak hanya berfungsi sangat penting untuk mencari ilmu secara sangat mendalam. Membaca juga dapat berfungsi untuk memperkaya diri kita dengan kata-kata. Semakin banyak dan beragam buku yang kita baca, semakin kaya dan beragam pula simpanan kata di dalam diri kita.

Akhirnya, jika kita memiliki banyak sekali kata di dalam diri kita, keadaan ini akan memudahkan kita menulis atau merumuskan sesuatu. Lewat hikmah ketiga ini, aku ingin menambahkan hal penting: Kadang-kadang, ada banyak sekali ide berkeliaran di dalam diriku. Namun, ketika ide-ide yang berkeliaran di kepalaku itu hendak kutuliskan atau rumuskan, aku mengalami kesulitan yang luar biasa. Ada semacam hambatan atau kemacetan. Menurut pengalaman dan pengamatanku, kemacetan itu terutama disebabkan oleh miskinnya kata-kata yang terdapat di dalam diriku. Dan untuk mengatasinya, tiada jalan lain kecuali dengan membaca.

Dari mana sumber inspirasiku dalam menulis? Aku ingin menjawab singkat: buku. Ya, buku-buku yang kubaca telah berhasil memperkaya diriku dan memasok materi-materi yang layak kutuliskan. Di buku Mengikat Makna, aku menderetkan buku-buku yang telah mempengaruhi diriku. Aku membaca buku apa saja. Aku percaya bahwa ketika seseorang sedang membaca, dia sebenarnya sedang menyerap kemampuan yang ada di dalam diri si penulis yang bukunya sedang dia baca. Atau, aku percaya sekali dengan kata-kata Rene Descartes berikut ini:

"� membaca buku yang baik itu bagaikan mengadakan percakapan dengan para cendekiawan yang paling cemerlang dari masa lampau�yakni para penulis buku itu. Ini semua bahkan merupakan percakapan berbobot lantaran dalam buku-buku itu mereka menuangkan gagasan-gagasan mereka yang terbaik semata-mata�."

Aku kemudian menajamkan istilah "buku yang baik" itu sebagai "buku yang bergizi". Aku memang membaca buku apa saja, tetapi buku yang kubaca harus buku yang memberiku "gizi". Buku yang kubaca tidak boleh hampa, kosong-melompong tidak berisi. Oleh sebab itu, sebelum aku membaca sebuah buku---buku apa saja---aku pun mencicipinya terlebih dahulu. Dan begitu aku selesai membaca, sebagaimana aku jelaskan di atas, aku pun lantas "mengikat" hal-hal yang berharga yang terdapat di dalam buku yang kubaca tersebut.

Kadang-kadang, aku tidak mendapatkan hal-hal yang berharga dari sebuah buku yang kubaca. Aku pun mempelajari dan mencari alasan mengapa buku yang kubaca tidak dapat kuserap maknanya? Apakah aku yang memang tidak becus membaca atau, sesungguhnya, buku yang kubaca itulah yang memang tidak menawarkan apa-apa kepadaku? Aku lantas belajar banyak dari kegiatan membaca dan menulisku. Aku tulis semua pengalaman diriku ketika aku bersentuhan dengan buku-buku yang kubaca. Dan ingin kuberitahu di sini tentang salah satu buku yang sangat mempengaruhiku ketika aku membangun diriku sebagai seorang penulis. Buku itu benar-benar memberdayakanku. Judul buku itu Quantum Learning.

Quantum Learning adalah buku yang benar-benar mampu mengubah diriku. Aku belajar dari Quantum Learning tentang bagaimana menulis dengan dua belahan otakku, yaitu otak belahan kiri dan kananku. Aku juga belajar dari Quantum Learning bagaimana menulis yang menghasilkan tulisan yang dapat membangkitkan gairah dan semangat untuk memperbaiki hidup. Dan aku belajar dari Quantum Learning bagaimana "mengemas" sebuah buku menjadi buku yang mampu memberdayakan para pembacanya. Pokoknya, Quantum Learning telah menginspirasi diriku bahwa buku dapat ditampilkan secara tidak biasa.

Buku Mengikat Makna kutampilkan dengan meniru persis kemasan model Quantum Learning. Bahkan dua bukuku yang lain, Quantum Reading dan Quantum Writing, kuciptakan ketika diriku benar-benar sudah disusupi oleh mantra-mantra ajaib Quantum Learning. Mungkin saja aku kemudian dapat menjadi penulis yang produktif (dalam waktu 4 tahun pernah menghasilkan 24 buku) dan kreatif (senantiasa mampu menyajikan buku-buku yang kaya makna dan tema) berkat buku yang memberdayakan bernama Quantum Learning.

Kiat Menampilkan Buku secara Kreatif dan Bagaimana Memenuhi Selera Pasar yang Senantiasa Berubah

Penulis yang ingin tetap hidup di masa kini tampaknya tidak cukup jika hanya menulis dan menghasilkan ide. Penulis-penulis yang ingin bertahan hidup di zaman yang terus berubah seperti sekarang ini, harus mau dan mampu meningkatkan hasratnya untuk "membaca" pasar. Mereka harus rajin keluar-masuk toko buku, bukan hanya keluar-masuk perpustakaan. Mereka juga harus terus-menerus berinteraksi dengan milis-milis dan beragam weblog yang menjamur di internet. Rakus membaca buku sebanyak mungkin adalah salah satu kunci-utama menjadi penulis sukses di zaman sekarang.

Ketika aku bertanya kepada Andrea Hirata,  pengarang novel-sangat laris Laskar Pelangi, tentang apa yang membuatnya sukses, dia menjawab pendek, "Membaca." Andrea memang mengaku tidak banyak membaca karya sastra. Dia baru membaca karya sastra setelah Laskar Pelangi jadi. Sebelum menciptakan Laskar Pelangi, dia mengaku banyak membaca buku-buku sains, ekonomi, dan juga jurnal-jurnal ilmiah yang memperkaya dirinya. Andrea Hirata, sebelum menjadi penulis, sesungguhnya adalah manusia yang memang "rakus membaca".

Perhatikan sebuah adegan di sebuah halaman di Laskar Pelangi berikut ini: "Buku itu kugenggam erat di atas pangkuanku dan aku segera menyadari bahwa seluruh kehidupan dewasaku telah terinspirasi oleh buku kumal yang selalu kubawa ke mana-mana itu. Dulu, ketika frustrasi karena berpisah dengan A Ling, maka pesona Desa Edensor, Taman Daffodil, dan jalan pasar berlandaskan batu-batu bulat, serta hamparan sabana di bukit-bukit Derbyshire telah menghiburku. Kemudian pada masa dewasa ini, ketika kehidupanku di Bogor berada pada titik terendah, aku perlahan-lahan bangkit juga karena semangat yang dipancarkan oleh Herriot, sang tokoh utama buku itu. Seperti ajaran Pak Harfan, Bu Mus, dan Kemuhamadiyahan, Herriot juga mengajariku tentang optimisme dan bagaimana aku harus berjuang untuk meraih masa depanku.

"Seminggu setelah kulemparkan naskah bulu tangkisku ke Kali Ciliwung, aku membaca sebuah pengumuman beasiswa pendidikan lanjutan dari sebuah negara asing. Aku segera menyusun rencana C, yaitu aku ingin sekolah lagi! Kemudian setelah itu tak ada satu menit pun waktu kusia-siakan selain untuk belajar. Aku membaca sebanyak-banyaknya buku. Aku membaca buku sambil menyortir surat, sambil makan, sambil minum, sambil tiduran mendengarkan wayang golek di radio AM. Aku membaca buku di angkutan umum, di dalam jamban, sambil mencuci pakaian, sambil dimarahi pelanggan, sambil disindir ketua ekspedisi, sambil mengikuti upacara Korpri, sambil menimba air, atau sambil memperbaiki atap bocor.

"Bahkan aku membaca sambil membaca. Dinding kamar kosku penuh dengan grafiti rumus-rumus kalkulus, GMAT, dan aturan-aturan tenses. Aku adalah pengunjung perpustakaan LIPI yang paling rajin dan shift sortir subuh yang dulu sangat kubenci, sekarang malah kuminta karena dengan demikian aku dapat pulang lebih awal untuk belajar di rumah. Jika beban pekerjaan demikian tinggi, aku membuat resume bacaanku dalam kertas-kertas kecil. Inilah teknik jembatan keledai yang dulu diajarkan Lintang kepadaku. Kertas-kertas kecil itu kubaca sambil menunggu ketua pos menurunkan kantong-kantong surat dari truk." (Laskar Pelangi, hlm. 458-459)

Menurutku, berpijak pada hal-hal yang kujelaskan sebelum ini, ada tiga tipe penulis yang bisa hidup di zaman sekarang. Pertama adalah para penulis yang senantiasa konsisten dan kontinu dalam menghadirkan tema-tema dan ide-ide baru yang orisinal; kedua, para penulis yang menganut mazhab "follower"; dan ketiga, para penulis yang piawai dalam memanfaatkan momen. Para penulis yang masuk dalam kelompok pertama tentu para penulis istimewa. Namun, para penulis yang masuk dalam kelompok kedua dan ketiga juga tidak boleh dianggap sebagai penulis kacangan. Mereka adalah penulis-penulis yang kreatif.

Penulis yang senantiasa menghadirkan kebaruan. Sesungguhnya, terkait dengan dunia tulis-menulis, tidak ada yang murni orisinal di muka bumi ini. Yang ada adalah kombinasi baru dari hal-hal yang pernah muncul. Dalam kaitannya dengan buku, bisa jadi materi yang ditulisnya tidak baru namun "pengemasannya" baru. Ini bisa terjadi jika buku itu mampu memiliki judul yang segar dan judul itu mampu memendam ide-ide yang baru. Bisa jadi juga dalam konteks penyajian dan pengemasannya, buku itu tidak tampil seadanya. Misalnya saja, buku itu ditampilkan dalam bentuk dua halaman yang berbeda. Halaman kiri berisi teks sebagaimana biasa, sementara halaman kanan diisi oleh ilustrasi atau teks-teks yang memantik semangat.

Penulis seperti Habiburrahman El-Shirazy dan Andrea Hirata adalah penulis-penulis yang sangat pantas untuk kita kaji. Kedua penulis ini memiliki karakter. Keduanya benar-benar dapat tampil sangat berbeda dengan para penulis lain sezamannya. Keduanya benar-benar excel (mencuat). Apa rahasia mereka sehingga karya-karyanya dapat disukai oleh para pembaca di Indonesia dan juga di luar negeri? Tentu ada banyak faktor yang membuat buku-buku karya mereka sangat laris. Namun, sekali lagi, ide-ide yang baru dan penyajian yang tidak biasalah yang bisa menjamin sebuah karya itu sangat digemari oleh pembacanya.

Penulis yang menganut mazhab "follower". Aku pernah memanfaatkan potensi menulisku untuk ikut menjadi penulis "follower". Buku yang kutulis berjudul, Al-Quran Bukan Da Vinci's Code. Aku menulis buku ini dengan nama samaran. Dari judulnya, buku yang kutulis ini ingin mengikuti novel sangat-sangat laris karya Dan Brown, Da Vinci Code. Hanya bukuku itu bukan buku fiksi. Buku Al-Quran Bukan Da Vinci's Code adalah buku yang ingin menunjukkan "kesaktian" Al-Quran ketika Al-Quran diserang oleh orang-orang yang tidak menyukainya. Aku menulis buku itu dengan cara memanfaatkan khazanah bacaanku. Selain itu, aku mengangkat tema ini dengan lebih dahulu mencari berita-berita yang membahas Al-Quran dalam sudut pandang tidak biasa.

Berita yang kuangkat adalah berita tentang ditemukannya manuskrip kuno Al-Quran di Yaman. Itu terjadi pada tahun 1972 ketika Masjid Agung San'a, yang ada di Yaman, direstorasi. Lantas, ada seorang penulis bernama Toby Lester yang mengangkat kontroversi temuan itu di jurnal The Atlantic Monthly pada Januari 1999, dengan judul "What is the Koran?" Lewat internet, aku dimudahkan untuk melacak berita-berita itu. Yang mencengangkanku, aku kemudian mendapatkan bahan-bahan yang sangat kaya. Semua itu aku kumpulkan dan memingta bantuan orang lain untuk diterjemahkan.

Selain di jurnal The Atlantic Monthly, aku juga mengacu ke berita yang diangkat oleh majalah Gatra edisi Nomor 37/IX, 2 Agustus 2003. Judul berita yang terpampang di sampul depan majalah itu cukup memancing rasa penasaran. Judul itu berbunyi, "Menggugat Kearaban Quran". Meskipun berita-berita tentang Al-Quran itu terjadi sudah cukup lama, yaitu yang satu berjarak tujuh tahun dan yang satu lagi berjarak sekitar empat tahun dengan tahun penulisan bukuku, namun yang perlu kutekankan di sini adalah aku menulis dengan berpijak pada hal-hal yang kukuh, yang tercetak. Aku menulis dengan merujuk ke sumber-sumber yang jelas dan tepercaya.

Penulis yang memanfaatkan momen. Aku menjadi penulis model kategori ketiga ini ketika menulis buku semi-fiksi, Aku Ingin Bunuh Harry Potter! Aku menulis buku ini karena aku memang suka dengan temanya. Aku sempat tergila-gila dengan karya Rowling yang membangkitkan imajinasiku. Aku lantas menciptakan tokoh bernama Heri Puter. Kebetulan, ketika aku punya niat membuat buku ini, dunia lagi heboh dengan akan hadirnya jilid terakhir Harry Potter. Waktu itu ada isu bahwa tokoh utama novel fantasi yang sangat laris, Harry Potter, akan dimatikan oleh penciptanya.

Begitulah. Isu tentang Harry Potter yang akan dimatikan oleh Rowling dijilid terkahir merebak di internet. Lagi-lagi, internet menolongku dalam membuat buku model beginian. Aku, terutama, sangat tertolong oleh sebuah situs yang sangat kaya dan terus di-update, Wikipedia. Aku juga berlangganan berita dari "Google Alert" yang senantiasa mengirimi berita-berita terbaru tentang Harry Potter ke mailbox-ku setiap hari. Kadang tidak hanya satu berita yang masuk ke mailbox-ku. Sehari aku bisa menerima sekitar tiga hingga lima berita.

Kadang-kadang buku-buku yang memanfaatkan momen dapat meledak. Edisi pertama Aku Ingin Bunuh Harry Potter!, dalam satu bulan bisa cetak ulang hingga tiga kali. Itu tentu sangat menggembirakanku. Akhirnya, aku pun memperluas edisi lama bukuku itu setelah jilid ketujuh atau terakhir Harry Potter dalam bahasa Inggris terbit. Aku menambah dengan memasukkan komentar menarik Stephen King tentang novel fantasi Harry Potter, dan juga menunjukkan manfaat membaca buku, khususnya buku Harry Potter. Untuk memancing sensasi, aku mau dijadikan model desainer sampul buku Aku Ingin Bunuh Harry Potter! edisi yang diperluas (extended version).[]

Bahan Bacaan:

Coady, Roxanne J., dan Joy Johannessen, The Book That Changed My Life (Gotham Books, 2006).

Dewabrata, A.M., Kalimat Jurnalistik: Panduan Mencermati Penulisan Berita (Penerbit Buku Kompas, 200e4).

Fishman, Roland, Creative Wisdom for Writers: Menulis itu Jenius (IndonesiaTera, 2005).

Hernowo, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza: Rangsangan Baru untuk Melejitkan "Word Smart" (Kaifa, 2003, cetakan ke-3).

_______, Mengikat Makna Sehari-hari: Bagaimana Mengubah Beban Membaca dan Menulis menjadi Kegiatan yang Ringan-Menyenangkan (MLC, 2005).

_______, Mengikat Makna untuk Remaja (MLC, 2004).

_______, Mengikat Makna: Kiat-Kiat Ampuh untuk Melejitkan Kemauan dan Kemampuan Membaca dan Menulis Buku (Kaifa, 2001, cetakan ke-7).

_______, Quantum Reading: Cara Cepat nan Bermanfaat untuk Merangsang Munculnya Potensi Membaca (MLC, 2003, cetakan ke-6).

_______, Quantum Writing: Cara Cepat nan Bermanfaat untuk Merangsang Munculnya Potensi Menulis (MLC, 2003, cetakan ke-7).

_______, Spirit Iqra': Menghimpun Samudra Makna Ramadhan (Mizania, 2003).

_______, Vitamin T: Bagaimana Mengubah Diri lewat Membaca dan Menulis (MLC, 2004).

Jennings, Paul, Agar Anak Anda Tertular "Virus" Membaca (MLC, 2006).

King, Stephen, On Writing: A Memoir of the Craft (Simon and Schuster, 2001).

Krashen, Stephen, The Power of Reading: Insights from the Research (Libraries Unlimited Inc., 1993).

Plimpton, George (ed.), Taruhan Mewujudkan Tulisan: Proses Kreatif Sebelas Penulis Perempuan Terkemuka Dunia (Jalasutra, 2006).

Provost, Gary, 100 Ways to Improve Your Writing: Cara Meningkatkan Kemampuan Menulis (Dahara Prize, 1999).

Sayuti, Suminto A., Taufiq Ismail: Karya dan Dunianya (Grasindo, 2005).

Vitale, Joe, Hypnotic Writing: Cara Membujuk dan Meyakinkan Pelanggan (dan SIAPA PUN) Hanya dengan Kata-Kata Anda (Gramedia Pustaka Utama, 2008).

Widjanarko, Putut, Elegi Gutenberg: Memposisikan Buku di Era Cyberspace (Mizan, 2000).

Wycoff, Joyce, Menjadi Superkreatif Melalui Metode "Pemetaan Pikiran" (Kaifa, 2002).
Pemutakhiran Terakhir ( Monday, 04 August 2008 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Karya

Cerpen
Puisi
Esai

Adakah Yang Online?

Saat ini ada 26 tamu online

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini35
mod_vvisit_counterKemarin24
mod_vvisit_counterPekan ini259
mod_vvisit_counterBulan ini644
mod_vvisit_counterSeluruhnya6420

Login Form






Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar

Penunjuk Waktu

Campaign

hijau1.jpg

Polls

Bagaimana menurut anda web kami ini?
 

Top