Skip to content

Narrow screen resolution Wide screen resolution Increase font size Decrease font size Default font size
Home
Optimalisasi Perpustakaan (Yessy) PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Administrator   
Monday, 04 August 2008
Makalah dari Yessy Gusman
PELATIHAN  OPTIMALISASI PERPUSTAKAAN SEKOLAH DAN TAMAN BACA UNTUK LINGKUNGAN SEKITAR
Jumat, 11 Juli 2008 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENGOPTIMALKAN FUNGSI TAMAN BACAAN

Perjalanan Taman Bacaan Anak keliling Nusantara telah sangat banyak membantu membuka mata hati saya untuk melihat betapa luas dan kayanya negara kita dengan begitu banyaknya kekayaan dan keragaman alam dan budaya yang merupakan tumpukkan harta karun terpendam yang memerlukan daya dan kekuatan kita semua sebagai satu keluarga besar bangsa Indonesia untuk menggalinya. Harta terpendam yang selama ini sering dibicarakan masyarakat, menurut saya pribadi ternyata adalah kekayaan budaya Nusantara yang perlu digali kembali sampai keakarnya dan dilestarikan sebagai bagian sejarah untuk dimiliki terus sampai generasi mendatang.

Betapa kurangnya pengetahuan generasi kita mengenai karunia Illahi yang dimiliki tanah air Indonesia. Sebagai contoh yaitu saya sendiri, yang pernah bersekolah sampai ke Amerika dan melakukan perjalanan ke banyak negara lain nan jauh di sana namun sampai dimulainya perjalanan TBA (Taman Bacaan Anak) keliling Nusantara, saya hanya mengenal pulau Jawa, Bali, dan Sebagian Sumatra.

Ternyata pengenalan nusantara sebagai diri sendiri, telah sangat menebalkan rasa cinta pada tanah air tidak hanya sebatas perjalanan yang dipelajari di sekolah, atau lagu kebangsaan yang dinyanyikan bersama pada saat upacara namun benar-benar mengunjungi, melihat, mempelajari dan memahami secara langsung dengan segenap permasalahannya.

Menurut hemat saya, mungkin selama ini tanpa disadari kita telah memfokuskan diri pada wawasan metropolis dan pulau Jawa sebagai pusat kekuatan hingga lupa memperluasnya menjadi wawasan kenusantaraan. Banyak orang memimpikan untuk bisa datang ke Ibukota karena terpukau dengan apa yang dilihat di media televisi, mungkin sudah saatnya kita membalik tujuan kunjungan ke berbagai daerah di tanah air untuk dikenali, dipelajari, dan dicintai. Sudah saatnya kita bersama-sama melakukan pemberdayaan kekuatan masyarakat, ibaratnya bagaikan membangunkan macan-macan tidur. Bagaikan mengaktifkan kembali zat antibodi yang ada di dalam tubuh. Dan tidak lagi menjadikan pemerintah sebagai satu-satunya sumber kekuatan yang akan menarik roda pembangunan.

Dimulai darimana? Pemerataan keadilan melalui pemerataan pendidikan bagi semua sebagai prioritas pembangunan saat ini. Pendidikan untuk menciptakan sumber daya manusia yang benar, tidak hanya pandai. Keseimbangan pendidikan antara pengetahuan dan akhlak diharapkan dari sana, kita semua dari Sabang sampai Merauke dapat berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Menciptakan rasa percaya diri yang mantap sehingga tidak dapat kesatuan dan persatuan kita dipecahbelahkan oleh kekuatan dari luar. Dapat menganalisa kekuatan diri dan mengembangkannya untuk kepentingan bangsa.

Berbagai cara dapat diusahakan untuk mencapainya. Asalkan kita semua mau berbuka hati dan berlapang dada untuk mencoba segala kemungkinan dan menjajaki masukan-masukan baru. Sistem pembelajaran seharusnya disesuaikan dengan karakter daerah masing-masing. Itu mungkin akan lebih mudah daripada memaksakan satu sistem untuk diberlakukan di semua tempat, walapun garis besarnya tetap sama. Contoh bagi masyarakat Papua yang dasarnya adalah nomaden hidup dari berburu, akan sulit menerima suatu sistem yang biasa berlaku di tanah Jawa di mana masyarakatnya biasa menetap dan mengembangkan daerahnya. Karenanya sistem belajar dan pengembangan daerahnya tentu akan berbeda. Pada intinya mungkin kita semua sebaiknya belajar membaca, tidak saja dengan pikiran tapi juga dengan mata hati.

Menggairahkan minat baca sebaiknya dimulai sejak dini, para ahli bahkan menyatakan ibu hamil sebaiknya membaca cerita dan memperdengarkan musik bagi anak yang masih berada dalam kandungan ibunya.

            Mengapa membaca begitu penting? Karena  dengan membaca akan terbukalah segala pengetahuan yang ada di alam semesta ini yang diizinkan oleh Sang Pencipta untuk kita ketahui. Namun membaca bukanlah dan tidak harus merupakan paksaan karena kalau kita sudah merasakan nikmat dan faedahnya, membaca akan menjadi suatu kebutuhan.

Kebiasaan membaca harus dimulai dari rumah. Jangan pernah mengharapkan anak-anak kita suka membaca kalau kita sebagai orang tua tidak suka membaca. Suatu rumah akan menjadi istana baca jika di setiap sudutnya ada bacaan yang mudah diakses anak-anak kita. Biasakan juga memiliki buku-buku kecil atau buku-buku saku yang bisa dibawa-bawa dengan mudah untuk dibaca di waktu senggang. Kenikmatan membaca buku berbeda dengan menggunakan komputer yang datanya terbatas. Sedangkan membaca buku dapat dilakukan di mana saja seperti di kebun, di kamar, di toko, dan sebagainya.

Pada hakekatnya pendidikan dan pengetahuan adalah suatu kebutuhan manusia yang sama pentingnya seperti kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Sebab manusia yang hidup tapi tanpa diisi dengan pendidikan dan pengetahuan yang cukup akan menjadi korban penjajahan kebodohannya sendiri sehingga dapat mengurangi kemampuannya berinteraksi secara seimbang dengan sesamanya dan lingkungannya, sehingga dapat menimbulkan suatu hubungan superior versus inferior atau dominan versus tertindas.

Sumber dari pendidikan diantaranya adalah dari keluarga, sekolah, teman main, guru, masyarakat, dan alam semesta. Jenis pendidikan dapat berupa pendidikan formal seperti perpustakaan atau taman bacaan. Namun dari perjalanan sejarah kehidupan manusia, pendidikan umum tanpa didasari pengetahuan agama, moral, dan akhlak yang baik bisa menjerumuskan kita kepada kehancuran.

            Bagi ibu rumah tangga yang biasa mengatur belanja kebutuhan rumah tangganya, belanja buku bisa dijadikan suatu rutinitas dan dimasukkan dalam anggaran bulanan. Manfaat membeli buku jauh lebih besar dari membeli mainan atau rekreasi lainnya, karena selain buku mengandung unsur pendidikan namun juga mengandung nilai rekreasi dan dapat disimpan untuk dibaca berulang-ulang. Tentunya orang tua dapat membantu memilih buku-buku yang akan dibeli.

Dengan membiasakan kesukaan membaca sejak kecil, secara tidak langsung menambah kekayaan perbendaharaan kata anak-anak kita sehingga dapat menggali kemampuannya menulis, entah sebagai penulis atau untuk keperluan pendidikan lebih lanjut. Karena saya menemukan kasus-kasus menyedihkan di mana ada pelajar-pelajar atau mahasiswa yang mendapat kesulitan untuk menuliskan buah pikirannya, sehingga memerlukan bantuan orang lain untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Negara kita masih membutuhkan begitu banyak penulis agar banyak bentuk bacaan yang dapat diterbitkan sehingga toko-toko buku dan perpustakaan bisa menjadi salah satu pusat pembelajaran.

            Ada berbagai bentuk perpustakaan yang kita ketahui seperti; Perpustakaan Negara, Kantor Lembaga atau Instasi, Umum, Sekolah, Masyarakat, Pos Kelilling, dan Perpustakaan Desa, bahkan yang ada di dalam rumah kita sendiri. Namun sering kali masih kita dapatkan hal yang menyedihkan seperi perpustakaan yang lemari-lemarinya selalu terkunci, jumlah dan jenis buku yang minim, penampilan perpustakaan, dan penempatan buku yang kurang menarik, lokasi perpustakaan yang sulit dijangkau, sampai pada petugas perpustakaan yang berwajah angker dan kurang ditujang pengetahuan yang cukup sebagai pustakawan yang seharusnya menyadari tugasnya yang sangat penting yaitu tidak hanya membantu pelanggan yang mencari buku yang dibutuhkan, namun juga mampu mempromosikan fasilitas-fasilitas yang ada di perpustakaan secara menarik serta berorientasi marketing sampai menciptakan kegiatan-kegiatan kreatif yang dapat menggairahkan kehidupan perpustakaan.

Sebagai langakah awal, mungkin sebaiknya dimulai dengan menciptakan kebiasaan baca dan mendirikan sudut-sudut baca di dalam rumah kita sendiri yang mudah diakses oleh setiap anggota keluarga sehingga menjadi suatu kebutuhan. Untuk di sekolah, dapat dilakukan sudut-sudut baca di setiap kelas, yang ditata sedemikian rupa sehingga murid-murid di sela-sela waktu istirahatnya dapat membaca di dalam kelas atau murid diwajibkan membaca satu judul buku setiap minggunya dan sudut baca ini dapat dilombakan kelas mana yang mempunyai sudut baca terbaik. Penilaiannya mungkin dari penataannya, kualitas bacaan, dan banyaknya pembaca. Sumber buku bacaan dapat diperoleh dari sumbangan setiap murid atau orang tua murid ataupun dari sumber lainnya.

            Dengan adanya sudut baca di dalam kelas setidaknya menjadi saluran bagi murid-murid yang mempunyai minat atau bakat dalam menulis atau gemar membaca. Dan dengan adanya sudut baca dapat mengajarkan siswa untuk merawat dan mencintai buku yang dimilikinya untuk disimpan dengan baik. Alangkah senangnya jika kelak anak-anak kita sudah dewasa mereka masih memiliki buku-buku lama yang mungkin sudah tidak diterbitkan lagi.

Anak-anak kecil pada umumnya suka membaca buku yang penuh gambar dan warna-warni. Hal ini adalah normal. Sedikit demi sedikit kita mengajarkan anak membaca buku dengan lebih sedikit gambar dan tulisan berhuruf besar. Lalu tulisan diperbanyak, gambar hanya sebagai ilustrasi saja sampai akhirnya anak mampu membaca buku tanpa gambar atau koran yang sebagian besar tulisannya berhuruf kecil.

            Saya sendiri mulai mengajak anak saya yang masih di sekolah dasar untuk mulai menyukai koran sebagai sumber berita dengan memilihkan artikel-artikel flora dan fauna bergambar yang sangat disukainya. Atau untuk anak saya yang remaja, pada awalnya dimulai dengan membaca artikel-artikel yang disukai anak muda, di mana sekarang dia sudah membaca koran secara keseluruhan.

            Sedangkan untuk anak-anak yang datang ke Taman Bacaan, saya mencoba memotivasinya dengan menganjurkan untuk setiap buku pengetahuan yang dibaca, boleh membaca satu buku cerita kesukaannya. Tapi saat ini untungnya mulai banyak buku-buku pengetahuan yang memiliki bentuk-bentuk dan gambar-gambar yang cukup menarik. Khususnya untuk Taman Bacaan Anak Bebas Biaya di daerah padat penduduk berbasis ekonomi lemah yang kami dirikan, dimaksudkan untuk membantu keluarga-keluarga yang tidak mungkin mempunyai sudut-sudut baca di rumahnya ditinjau dari keterbatasan ruangan dan dananya.

            Untuk daerah yang sedang atau baru mengalami masalah-masalah seperti bencana alam, kemiskinan, kerusuhan dan sebagainya yang sulit fasilitas penunjang, seperti contohnya daerah Ambon, sebaiknya di beberapa sekolah yang jaraknya tidak begitu jauh dapat didirikan satu perpustakaan memadai dipergunakan bersama untuk wilayah tersebut yang dapat menunjang kegiatan sekolah. Sehingga sekolah-sekolah tersebut dapat menjadikan perpustakaan tersebut sebagai pusat kegiatan membaca, berkreasi maupun kegiatan lain yang berhubungan dengan kegiatan sekolah mereka.

            Kita juga dapat mengajak masyarakat setempat yang peduli lingkungan untuk berpartisipasi mendirikan Taman Bacaan Anak (TBA), seperti sebagai contoh di daerah Kalimantan Timur di desa Batuah di mana penduduknya mayoritas adalah petani lada. Taman Bacaan didirikan di atas rumah panggung. Sehingga ini diharapkan menjadi pilot project untuk pengembangan taman bacaan di daerah lain.

Untuk itu belajar dan ilmu pengetahuan, tidak hanya didapat dari sekolah formal tetapi juga dari lingkungan non formal. Pada perjalanannya ternyata Taman Bacaan Anak (TBA) tidak hanya sebagai penunjang sekolah-sekolah formal yang ada, tetapi juga sebagai alternatif bagi anak yang tidak mendapatkan kesempatan untuk bersekolah di sekolah formal. Seperti di Desa Tangkil, Lido, Jawa Barat di bawah kaki gunung Gede, didirikan sebuah Taman Bacaan Anak yang bernama "Amanah Corry" yang menjadi pusat belajar alternatif bagi anak-anak di desa itu. Dikarenakan apabila mereka ke sekolah umum perjalanannya harus naik ojek seharga Rp. 5.000,- sekali jalan sedangkan penghasilan ayahnya sebagai petani di sana hanya sebesar Rp. 12.000,- per hari.

            Dengan adanya Taman Bacaan Anak di sekitar rumahnya, anak-anak dapat belajar sambil bermain dan bersosialisasi dengan teman-temannya. Di situ juga diusahakan untuk menggali kreatifitas anak serta menanamkan nilai-nilai akhlak dan moral sejak dini. Harapan kami anak-anak pemilik masa depan ini akan mempunyai hidup yang lebih bermakna jika mempunyai keindahan otak dan hati.

Insya Allah.

Wassalam.
Pemutakhiran Terakhir ( Monday, 04 August 2008 )
 
< Sebelumnya

Karya

Cerpen
Puisi
Esai

Adakah Yang Online?

Saat ini ada 1 tamu online

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini31
mod_vvisit_counterKemarin24
mod_vvisit_counterPekan ini255
mod_vvisit_counterBulan ini640
mod_vvisit_counterSeluruhnya6415

Login Form






Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar

Penunjuk Waktu

Campaign

hijau1.jpg

Polls

Bagaimana menurut anda web kami ini?
 

Top