|
Senandung Lirih Setengah Dien |
|
|
|
|
Ditulis Oleh Aciko Zhafira
|
|
Monday, 17 March 2008 |
|
Aku masih tergugu, mematung. Sebuah kertas tebal persegi panjang dengan motif tapis pucuk rebung tergenggam ditanganku. Erat, sampai terasa akan terberai dari bentuknya. Sebuah undangan pernikahn. Seharusnya aku senang membaca nama yang tertera di kertas itu. Namun sebuah rasa begitu menyesak di dadaku, kecewa. Entahlah! Rida Dalina, tentu aku mengenal nama itu, ia karibku sejak sekolah menengah atas. Namun nama yang pria aku tak kenal. Tapi tunggu dulu, sepertinya aku pernah mendengarnya. Tak salah lagi, aku pernah mendengarnya satu kali. Aku semakin meremas kertas ditanganku. Tergiang kembali percakapan sebulan yang lalu, dirumah ini, di ruangan ini, kamarku. Saat itu aku menyempatkan diri untuk pulang ketika jenuh dengan kuliahku yang belum jua selesai. **@Z** |
|
Pemutakhiran Terakhir ( Monday, 17 March 2008 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Laela Awalia
|
|
Monday, 17 March 2008 |
|
Derma Gunawan mendadak shock. Tubuh gembulnya limbung ke lantai, satu tangannya mencengkeram dada kiri, seolah tak ingin kehilangan sesuatu dari sana. Mata dan mulutnya membuka lebar. Keringatnya tak lagi mengalir satu-satu. Ada sisa suara yang dicobanya untuk keluar. Tapi nihil, kalimat pendek yang putus-putus itu memang tak diizinkan untuk terlontar. Wajahnya memucat dan sedetik kemudian erangannya pecah beriring jeritan istrinya. Andai Derma tak membuka bingkisan itu... ooo |
|
Pemutakhiran Terakhir ( Monday, 17 March 2008 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Dyah Raysa L
|
|
Monday, 17 March 2008 |
|
Daun-daun magenta berguguran indah di rerumputan nila. Bunga-bunga beterbangan, harumnya sampai ke hatiku. Gemericik sungai berbatu intan menyapa indah. |
|
Pemutakhiran Terakhir ( Monday, 17 March 2008 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|